15/06/12

Si Penjual Koran

SI PENJUAL KORAN
(sebuah renungan)
Ketika pulang dari kantor sekitar jam 17.30 BBWI, di perempatan jalan TMII menuju kampung rambutan mobilku berhenti karena lampu merah. Sekilas kulihat ada seorang anak kecil yang menjajakan koran, debu jalanan menempel dipipinya. Anak itu mengenakan kaos seragam olah raganya yang berwarna biru dan kelihatannya telah lusuh dengan celana merah, khasnya celana anak SD. Namun, di wajahnya kulihat penuh enerjik. Pertama dia tawarkan kepada mobil Kijang di depanku meskipun ternyata pemilik mobil tidak berminat membelinya, kemudian dia mendatangiku dan “Pak, korannya pak, ada koran pagi harganya didiskon deh buat bapak Rp. 500,- ada juga koran petang, “ setengah bercanda anak itu bicara. Aku tersenyum mendengar celotehannya. “Kenapa kamu masih menjual koran sore nak?
Kan beritanya udah basi,” aku coba mengajak ngobrol sambil menunggu lampu lalu lintas berwarna hijau. “Lumayan pak, apabila kejual untungnya buat aku semuanya”, anak itu berkata lagi. Kutimpali “ Emang gak setorkan uangnya ke pengecer?”. “Tidak pak, ini dikasih ama pengecer daripada mubazir katanya”, anak itu mencoba menjelaskannya padaku.
“Kamu sehari dapat berapa kalau jualan gini?” kutanya sambil kulihat lampu kalau-kalau sudah hijau. “Lumayan pak buat makan ama bayar sekolah” dijawab singkat olehnya. “Kalau sama para pengemis yang sebayamu itu (sambil kutunjuk beberapa anak kecil yang meminta-minta) gedean mana hasilnya” kutanya dia. Diapun menjawab” Gedean dialah, kadang mereka dapat Rp. 50.000,- sehari, kalau aku yaahhhhh kelaut aja”. Akupun tertawa mendengarnya.
“Kok kamu gak ikutan kayak mereka?,
kan lumayan hasilnya,” ujarku, “Bapakku bisa marah kalau aku seperti mereka,” kata dia seraya menunjuk kearah segerombolan anak kecil itu. “Mending jualan koran lebih bermartabat kata bapak, daripada harus ngemis seperti itu, lagian akunya juga malu, kan kata bapakku Islam menganjurkan ‘lebih baik tangan di atas daripada tangan di bawah’, makanya aku jualan aja, juga kata bapakku biar gedenya aku bisa jadi orang yang berguna buat orang lain, aku sendiri gak tau yang bapak omongin, tapi percaya itu benar” dengan panjang lebar dia mencoba menjelaskannya.
Akupun trenyuh mendengarnya, terus terang aku malu padanya, tanpa kenal lelah, sepulang sekolah, menahan terik matahari, bernafaskan debu jalanan, dia mencoba mencari uang demi sebuah angan-angannya. Sedangkan aku di kantor ber-AC, kerja cuma duduk saja, sesekali kadang main game, masih saja mengeluh masalah gaji yang kudapat setiap awal bulan, padahal menurut orang-orang itu sudah lebih dari cukup. Ya, Tuhan betapa aku menjadi orang yang tidak mensyukuri nikmat-Mu…..
“Koran tadi pagi ada berapa? Aku beli semuanya ya,” tanyaku sambil kulirik lampu lalu lintas yang belum hijau juga. “Semuanya sih ada
lima lagi tinggal kompas 3 sama republika 2, tapi buat apaan pak semuanya? Bapak kasihan ya ama aku? Setengah bingung dia bertanya. “Bapak perlu buat bungkus buku di rumah, makanya perlu banyak kan kalau dibacapun beritanya udah bapak baca di kantor tadi.” Kucoba jelaskan agar dia tidak tersinggung, padahal terus terang aku iba padanya atas ketegarannya itu. “Semuanya Rp. 2.500,- pak,” ujarnya, akupun merogoh uang Rp. 5.000,- dan menyerahkan padanya setelah kuambil lima korannya. Pas dia menghitung uang kembalianku, sebelum diserahkan padaku, mobilku berjalan pelan karena lampu sudah hijau sambil berkata padanya,”Kembaliannya besok bapak ambil ya, bapakkan sering lewat sini,” aku berkata sambil menoleh sebentar padanya, setengah bingung lagi dia cuma mengangguk. Padahal aku sering pulang kantor lewat tol, jarang lewat jalan TMII. Sengaja ku berkata begitu agar dia tidak tersinggung, kenyataannya aku memang pengen ngasih uang padanya sebagai kenang-kenangan dari seorang teman ngobrolnya di perempatan jalan, bukan karena kasihan.
Mobilku melaju menjauhinya, dalam hatiku berkata, Ya Tuhan tegarkanlah hatiku seperti anak itu dalam mengarungi hidup ini, dalam menafkahi anak istriku. Akupun berterima kasih pada anak itu atas nasihat terselubungnya. Terlintas wajah istriku dan anak tercinta, akupun menancap gas dengan pasti sambil berkata “ayah pulang nak.”

(true story, for someone who loves)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar